art, sastra, story

Ada Apa Disana?

[np: Bloom – Lights and Motion]

“Ada apa disana?” dengan polosnya ia bertanya pada ibu
biru dan bersinar
biru dan bersinar
biru dan bersinar
“Aku ingin kesana” dengan polosnya ia menyatakan pada ibunya
biru dan bersinar
biru dan bersinar
biru dan bersinar
ia keluar rumah dan berjalan ke atas bukit
8 jaraknya dari rumah
duduk di rerumputan hijau di atas bukit nelos dengan teropong besar di sebelahnya
meletakkan mata kirinya pada lensa teropong
benda itu terlihat
biru dan berinar
biru dan bersinar
biru dan bersinar
lebih dekat lagi
lebih dekat lagi
ia ingin lebih dekat lagi
tetap
biru dan bersinar
“Ada apa disana?” dengan polosnya ia bertanya pada teropong di sebelahnya
hening
hening
sura semakin hening
ia turun perlahan dari bukit Nelos menuju arah kota
meratapi sekitar dan melihat tingkah penduduk Sijatre
orang-orang mengendarai kitoka, mobil kecil bermuatan lima
orang-orang bercakap melalui jari-jarinya yang berjumlah enam
orang-orang berdiri di pinggir jalan menunggu lampu oranye untuk menyebrang
orang-orang menyiram floret, tanaman di depan rumah
orang-orang membawa bago, tas tenteng untuk bekerja
orang-orang membawa anaknya di atas kepala
orang-orang itu,
akankah disana ada?
ada apa disana?
ia berjalan maju ke arah rumah kuning beralas tulio, karpet merah bergambar Kerajaan Sijatre
itu rumahnya
rumah tanpa atap
hujan jarang sekali hadir
jika hujan hadir, mereka berpesta pora
sebab seisi rumah bisa bertambah 2x lipat
floret semakin bermekaran
semula berwarna hijau
tiba-tiba berwarna merah muda
semula berukuran 3
tiba-tiba berukuran 6
jika hujan hadir,
berlarian orang-orang ke tengah jalan
berlarian anak-anak membawa buro, bola tendang yang biasa dimainkan di palokan, lapangan putih di pinggir kota
kemarau sering kali hadir
jadi mereka tidak berpesta pora
tampaknya biasa saja
jika malam hadir,
segalanya tampak indah sekali
hanya 5 jam lamanya
kota tidak ada penerangan
jika malam hadir,
orang-orang akan bersinar tepat di atas kepalanya
floret menjadi bercahaya
sepanjang jalan dipenuhi loko-loko, semut bersinar yang memenuhi pinggiran jalan
setiap daun di pohon akan menyalakan terang berwarna kuning
ia rasanya hanya ingin menatap malam
berjalan-jalan menyusuri kota
memetik floret di pekarangan
atau sekedar berdiam diri dibawah pohon menikmati daun-daun bersinar
sayangnya pagi-pagi ia harus ke kulos, Sekolahnya
jika malam hadir,
ia akan merebahkan diri di atas alas tulio dirumah
menatap langit malam
dari rumah kuning beralas tulio tanpa atap
ia akan menunjuk benda-benda asing yang berputar-putar di atas gelapnya malam
ah akankah disana ada?
ah akankah seperti ini rasanya?
sekali lagi sambil menatap langit
dan benda itu
biru dan bersinar
biru dan bersinar
biru dan bersinar
kata orang-orang Sijatre,
namanya Bumi.

Advertisements
cinta, sastra, story

Pada Dusta, Takluklah Ia.

lalu seorang itu pergi menemui kekasihnya di ujung kanan jalan
tepat di sebrang taman kota di bawah jembatan layang
kekasihnya membawa tas yang diselempangkan pada pundaknya
kekasihnya membawa tas yang ditenteng pada jemari tangan kirinya
kekasihnya membetulkan letak kacamata yang turun sampai pangkal hidungnya
lalu seorang itu pergi menemui kekasihnya di ujung kanan jalan
tepat di sebrang taman kota dibawah jembatan layang
ramai kendaraan berhamburan di tengah jalan
motor ke kanan
motor ke kiri
mobil ke kanan
mobil ke kiri
seorang itu diam di kursi pengemudinya
kekasihnya menghampiri mobil yang diam di ujung kanan jalan
tepat di sebrang taman kota di bawah jembatan layang
kekasihnya membuka pintu mobil dan duduk di kursi sebelah kiri
kekasihnya tersenyum dan menatap mata seorang itu dalam
dalam-dalam ia tarik nafas
dalam-dalam ia tersenyum
dalam-dalam ia menunduk perlahan
seorang itu tersenyum dan menatap mata kekasihnya dalam
dalam-dalam ia tarik nafas
dalam-dalam ia tersenyum
dalam-dalam ia menunduk perlahan
kekasihnya tau seorang itu menahan kata
kekasihnya tau seorang itu menahan lara
seorang itu tau kekasihnya menahan kata
seorang itu tau kekasihnya menahan lara
dengan tenang mereka tenggelam dalam pelukan
dengan tenang mereka tenggelam pada pundak
dengan tenang mereka meneteskan air mata
tanpa suara
hanya menahan lara
seorang itu menjebak kekasihnya dengan dusta
kekasihnya menjebak seorang itu dengan dusta
seorang itu terjatuh dalam dusta
kekasihnya terjatuh dalam dusta
dengan tenang mereka menari-nari di dalamnya
dengan tenang mereka berputar-putar di antara sarang-sarang penuh murka
seorang itu tidak tahu apa
kekasihnya itu tidak tahu apa
sampai akhirnya mereka berputus asa

[Yogyakarta, 13 Agustus 2018]
03:05
np: Overture – Lights and Motion

art, cinta, sastra, story

Lalu Ia

lalu ia berdiri di persimpangan jalan
melihat ke kanan dan ke kiri
motor-motor lewat diam-diam
pengendara diam-diam memperhatikan
lalu ia berdiri di persimpangan jalan
di atas trotoar hitam putih
ditumpu sepatu hitam beralas putih
melihat ke kanan dan ke kiri
mobil-mobil lewat diam-diam
pengendara diam-diam memperhatikan
lalu ia berdiri di persimpangan jalan
menundukkan wajahnya menatap aspal abu-abu
semut-semut lewat diam-diam
semut-semut diam memperhatikan
lalu ia berdiri di persimpangan jalan
dengan tangan bergetar mengepal
awan-awan lewat diam-diam
burung diam-diam memperhatikan
lalu ia berdiri di persimpangan jalan
gelap malam lewat diam-diam
cahaya jingga diam-diam memperhatikan
lalu ia berdiri di persimpangan jalan
menunggu.

art, cinta, sastra

3 x 4 pukul 2.00

wanita itu memakai kaos hitam tanpa lengan
menyesap kuat-kuat rokoknya
memejamkan mata yang mulai basah
bibirnya bergetar menahan
menyendiri lagi ia
didalam ruang 3 x 4
terpuruk di sudut kanan ruang berdinding putih
denting jam mengisi kosongnya jiwa
menunggu datangnya pagi
sebatang rokok ia nyalakan lagi
asap mengepul dan pergi mengikuti arah angin
ia hisap
ia hirup
sesak di dada
sesak di hati
kakinya lesu
tangannya membeku
terkurung lagi ia pada rasa
mencoba merentas duka yang tertera pada lara
mengikis rindu yang kian membelenggu
ia ada pada jam 02.00
sendiri ia diterpa air mata ditelan gelap malam disudut kelamnya cahaya
adakah yang kan mengisi kosongnya jiwa
saat dirinya tak mampu
adakah yang kan menarik tubuhnya berdiri
saat dirinya tak mampu
adakah yang kan melihatnya
saat dirinya tak mampu

 

 

 

art, cinta, Girl, modern, sastra, story, Uncategorized

Roda Menuju Rumah

Raga pergi keluar rumah
dengan sepeda ia melaju perlahan
kayuh, kayuh, kayuh sepeda kuat-kuat
menatap jalan di depan
polisi tidur 5 cm tingginya
rem di sebelah kanan ia tekan kencang
melaju lagi ia
dilewati gadis yang duduk di kursi roda
rambutnya hampir habis digerogoti makhluk asing
tebalnya sweater merah ia rekatkan pada tubuh
kulitnya putih pucat
walaupun gincu merah melekat
menatap ke langit
matanya kosong
seorang nenek berdiri di belakangnya
memegang pegangan kursi roda
Raga berhenti sepersekian menit
melaju lagi ia
menatap jalan di depan
polisi tidur 5 cm tingginya
rem di sebelah kanan ia tekan
putar balik
berhenti di sebelah gadis yang duduk di kursi roda
Grey nama gadis itu
manis
matanya kosong
namun tersenyum
manis
Raga pria pertama di luar sekolah yang mengajaknya berkenalan
Grey gadis pertama di luar sekolah yang ia ajak berkenalan
mereka melaju bersama
seorang nenek berdiri di belakang mereka
memegang pegangan kursi roda
dan membantu mendorong sepeda
Grey menyuruh nenek pulang
berdua sekarang
Grey
Raga
Grey dengan kursi rodanya
kursi roda yang ia dapat setelah mengalami kecelakaan
hilang penglihatan
hilang kakinya
Raga mengayuh pelan sepedanya
sepeda yang ia dapat setelah umurnya beranjak 3 tahun
kakinya lumpuh sejak lahir.

 

 

art, cafe, cinta, coklat panas, Girl, instagram, isntagram, modern, relasi, sastra, sosial, Uncategorized

Jakarta 011

menyusuri 1,5 km trotoar kota Jakarta
dihiasi bisingnya kendaraan bermotor yang melintas di kanan, kiri tubuh.
playlist tetap berputar dari ipod yang terpasang di saku sebelah kiri
mataku lurus menghadap megahnya kota.
namun kakiku terseret-seret entah pergi kemana
11 Juni 2018
sepi sekali
ramai berkeliaran
sepi tertumbuk rasa
sepi hampa menjadi bulir di bilik kelambu
marah menguak bersamaan teriknya mentari di siang-siang
terasa hangat nampaknya namun dingin
berguguran ia, sang kelopak, sang daun
jatuh tergeletak di kelopak mataku
kelopak matamu terbelalak besar
lihatlah dunia katamu
kutatap penuh tanda tanya
dunia apakah yang kudiami
yang penuh rasa sakit dan kebencian
sukar sekali menemukan cinta dan sukacita
hanya 2-3 jam ku akhirnya menemukan
sampai terpisah sekali lagi
ia ke kanan
ia ke kiri
kelabu disana
kelabu disani
sepi sekali
bahagia yang kutuliskan tertutup
kesedihan yang kurasa terbuka penuh
sampai ia bergumul dengan angin
terbawa pergi ke tempat antah berantah
ke sebrang sungai yang sering kulewati bersama perahu kuning
lalu mengalirlah ia bersama air keruh menuju hilir
sampai ke sebrang samudra yang tak kutahu lagi
tidurlah ia di atas singgasana yang terbuat dari embun
bersama rasa goyah yang menggoyang hati dan jiwa dan raga
terang diujung sana tak mampu melumpuhkan apa-apa
gelap diujung sana tak mampu mematikan apa-apa
ikatan waktu meramu menjadi sepasang roda yang berputar cepat sekali
sampai aku tersadar dan terbagun dari waktu yang usang
entah ingin kemana
aku duduk diam
di pinggir sungai
bersama perahu kuning
dan angin yang berhembus kencang namun air tetap diam tenang.

[np: skinny Love-Birdy]

art, cafe, cinta, coklat panas, Girl, instagram, modern, relasi, sastra, sosial, story, Uncategorized

Terang

perjalanan dimulai
Dimulai.
Dimulai.
Seorang anak melihat ke langit di malam hari. Tampak hitam dengan beberapa titik cahaya berkelip-kelip yang ia kenal dengan sebutan Bintang
Tampak bentuk sabit dengan cahaya kuning bersinar lebih besar dari semua yang berkelap-kelip.
Anak kecil itu memanggilnya Bulan.
Sambil tersenyum ia membayangkan memanjat menaiki tangga untuk sampai ke bulan lalu mengambil salah satu bintang untuk dibawanya pulang ke rumah.
Dengan bangga ia akan memamerkan ke teman-teman di kompleknya kalau ia mendapat bintang dengan menaiki tangga sambil menembus gumpalan-gumpalan awan berbentuk macan. Semua anak akan merasa iri tehadapnya.
Anak kecil itu akan menaruh bintang itu di sebelah kasur tipisnya yang menempel di lantai. Seraya berdoa ia akan membisikan harapan yang ada di hatinya kepada bintang.
Tidak ingin menyakiti sang bintang, ia kembali menaiki tangga menuju bulan lalu mengembalikan bintang itu ke sebelah bulan berharap mereka akan tetap berdampingan.
Anak kecil itu turun lagi lalu tertidur.
Ia bangun di pagi hari sambil tersenyum dan menyapa nenek kakeknya di meja makan dengan girang dan juga menyapa ayah,ibu, dan adiknya di foto berbingkai hitam yang tertempel di dinding rotan.
dengan semangat ia memakai sepatu hitam dan seragam sekolahnya yang lusuh dan tampak menguning.
berlari ia sambil menyapa langit, bintang, semesta
berharap sang bintang mengabulkan permohonannya yang rahasia itu.
bintang jatuh.
di pagi hari.
tak terlihat ia.
namun di waktu yang tepat.